Kamis, 28 Februari 2013

Pendekatan Induktif dan Deduktif


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Belajar adalah sesuatu kegiatan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat mengembangkan potensi-potensi yang dibawa sejak lahir. Komponen-komponen yang ada dalam kegiatan pembelajaran adalah guru dan siswa. Seorang guru dituntut mempunyai pengetahuan, keterampilan dan sikap yang profesional dalam memberikan pembelajaran terhadap siswa-siswanya.
Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam kegiatan belajar mengajar banyak faktor yang  memegang peran antara lain guru dan siswa sebagai pelakunya, proses belajar mengajarnya itu sendiri, fasilitas pendukung yang tersedia, lingkungan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar tersebut dan lain sebagainya.
Proses pembelajaran dapat diikuti dengan baik dan menarik perhatian siswa apabila menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan sesuai dengan materi pembelajaran, hal ini dikarenakan tingkat pemahaman matematika seorang siswa lebih dipengaruhi oleh pengalaman siswa itu sendiri. Sedangkan pembelajaran matematika merupakan usaha membantu siswa mengkontruksi pengetahuan melalui proses. Proses tersebut dimulai dari pengalaman, sehingga siswa harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengkontruksi sendiri pengetahuan yang harus dimiliki.


Untuk itu, guru perlu menemukan cara terbaik bagaimana menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingatnya lebih lama konsep tersebut dan bagaimana setiap mata pelajaran dipahami sebagai bagian yang saling berhubungan dan membentuk satu pemahaman yang utuh. Salah satu alternatif yakni model pembelajaran dengan pendekatan deduktif dan induktif, karena model ini selain dapat mengembangkan kemampuan kognitif siswa, juga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam hal mengkomunikasikan matematika dengan cara mengawali suatu materi dengan contoh-contoh dengan tujuan supaya siswa dapat mengidentifikasi, membedakan kemudian mengintepretasi, menggeneralisasi dan akhirnya mengambil kesimpulan.

B.     Rumusan Penulisan
Rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.      Bagaimana model pembelajaran dengan pendekatan induktif dan deduktif ?
2.      Bagaimana desain pembelajaran pendekatan induktif dan deduktif dalam matematika?

C.       Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui model pembelajaran dengan pendekatan induktif dan deduktif
2.      Untuk mengetahui desain pembelajaran pendekatan induktif dan deduktif dalam matematika




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran digunakan sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan. Menurut Sagala (2010:68) menjelaskan bahwa “Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk satuan instruksional tertentu.”Sedangkan menurut Sanjaya (2008:125) menyatakan bahwa “Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.” Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu. Menurut Wahjoedi (1999:121) bahwa, “Pendekatan pembelajaran adalah cara mengelola kegiatan belajar dan perilaku siswa agar ia dapat aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar secara optimal”.
Berdasarkan pengertian tentang pendekatan pembelajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan pembelajaran merupakan cara kerja yang mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran dan membelajarkan siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
B.     Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif pada awalnya dikemukakan oleh filosof Inggris Perancis Bacon yang menghendaki agar penarikan kesimpulan didasarkan pada fakta-fakta yang konkrit sebanyak mungkin, sistem ini dipandang sebagai sistem yang paling baik pada abad pertengahan yaitu cara induktif disebut juga sebagai dogmatif artinya bersifat mempercayai bagitu saja tanpa diteliti secara rasional. Pada dasarnya berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju ke yang umum. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sagala (2010:77) yang mengatakan bahwa “Dalam konteks pembelajaran pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu prinsip atau aturan.” Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa Pendekatan induktif dimulai dengan pemberian kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesiskan, menemukan, atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut. Mengajar dengan pendekatan induktif adalah cara mengajar dengan cara penyajian kepada siswa dari suatu contoh yang spesifik untuk kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu aturan prinsip atau fakta yang pasti.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang berawal dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu kesimpulan, prinsip atau aturan.
Menurut Yamin (2008:90) pendekatan induktif tepat digunakan manakala:
1)      Siswa telah mengenal atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut,
2)      Yang diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara pribadi, sikap, pemecahan, dan pengambilan keputusan,
3)      Pengajar mempunyai keterampilan fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan terampil mengulang pertanyaan, dan sabar,
4)      Waktu yang tersedia cukup panjang.
Menurut Sagala (2010:77) langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan induktif yaitu:
1)      Memilih dan menentukan bagian dari pengetahuan (konsep, aturan umum, prinsip dan sebagainya) sebagai pokok bahasan yang akan diajarkan.
2)      Menyajikan contoh-contoh spesifik dari konsep, prinsip atau aturan umum itu sehingga memungkinkan siswa menyusun hipotesis (jawaban sementara) yang bersifat umum.
3)      Kemudian bukti-bukti disajikan dalam bentuk contoh tambahan dengan tujuan membenarkan atau menyangkal hipotesis yang dibuat siswa.
4)      Kemudian disusun pernyataan tentang kesimpulan misalnya berupa aturan umum yang telah terbukti berdasarkan langkah-langkah tersebut, baik dilakukan oleh guru atau oleh siswa.

Strategi pembelajaran induktif dirancang berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar. Pembelajaran ini membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya (questioning) dalam penerapannya. Melalui pertanyaan-pertanyaan inilah guru akan membimbing siswa membangun pemahaman terhadap materi pelajaran dengan cara berpikir dan membangun ide. Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini sangat tergantung pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi pembimbing yang akan untuk membuat siswa berpikir.
Jenis pendekatan induktif:
a)      Membentuk satu generalisasi dari pada contoh-contoh tertentu.
b)      Membentuk satu prinsip dari uji kajian tertentu.
c)      Membentuk satu hukum dari pernyataan-pernyataan tertentu.
d)     Mendapat satu teori dari urutan suatu pemikiran.
Toni Julianto (2012) dalam makalahnya menyatakan ciri-ciri dari strategi pembelajaran induktif adalah:
a)      Penekanan pada keterampilan berpikir dan tujuan-tujuan afektif
b)      Berstruktur rendah
c)      Penggunaan waktu yang kurang efisien
d)     Memberi kesempatan yang banyak untuk belajar sewaktu-waktu

Model pengajaran induktif dari Hilda Taba ini didasarkan atas 3 postulat utama mengenai berfikir, yaitu sebagai berikut:
a.       Bahwa berpikir dapat dididik
b.      Bahwa berpikir adalah suatu transaksi aktif antara individu dan data
c.       Bahwa proses berpikir lambat laun membentuk kaidah -kaidah berpikir.

Induktif merupakan proses berpikir di mana siswa menyimpulkan dari apa yang diketahui benar untuk hal yang khusus, juga akan benar untuk semua hal yang serupa secara umum. Sebuah argumen induktif meliputi dua komponen, yang pertama terdiri dari pernyataan/fakta yang mengakui untuk mendukung kesimpulan dan yang kedua bagian dari argumentasi itu.
 Matematika dikenal sebagai ilmu deduktif, karena proses mencari kebenaran (generalisasi) dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan yang lain. Metode pencarian kebenaran yang dipakai adalah metode deduktif, tidak dapat dengan cara induktif. Pada ilmu pengetahuan alam adalah metode induktif dan eksperimen. Walaupun dalam matematika mencari kebenaran itu dapat dimulai dengan cara induktif, tetapi seterusnya generalisasi yang benar untuk semua keadaan harus dapat dibuktikan dengan cara deduktif. Dalam matematika suatu generalisasi dari sifat, teori atau dalil itu dapat diterima kebenarannya sesudah dibuktikan secara deduktif. Berikut adalah beberapa contoh pembuktian dalil atau generalisasi pada matematika. Dalil atau  generalisasi berikut dibenarkan dalam matematika karena sudah dapat dibuktikan secara deduktif.
Contoh : Bilangan
Bilangan ganjil ditambah bilangan ganjil sama dengann bilangan genap.
Misalnya kita ambil beberapa buah bilangan ganjil yaitu 1, 3, -5, 7. Maka:

+
1
3
5
7
1
2
4
6
8
3
4
6
8
10
5
6
8
10
12
7
8
10
12
14

Dari tabel di atas, terlihat bahwa untuk setiap dua bilangan ganjil jika dijumlahkan hasilnya selalu genap. Dalam matematika hasil di atas belum dianggap sebagai suatu generalisasi, walaupun anak membuat contoh-contoh dengan bilangan yang lebih banyak lagi. Pembuktian dengan cara induktif ini harus dibuktikan lagi dengan cara deduktif.
Contoh  : Pola Geometri
Perhatikan gambar berikut ini!

Dapatkah kita menduga dua bilangan sesudah 10?
Jawab:
Menurut Wariman (1997) ada beberapa kekurangan dan kelebihan pembalajaran induktif
1.      Kelebihan dari pendekatan induktif antara lain :
a)      Dapat mengembangkan keterampilan berpikir siswa karena siswa selalu dipancing dengan pertanyaan.
b)      Dapat menguasai secara tuntas topic-topik yang dibicarakan karena adanya tukar pendapat antar siswa sehingga didapatkan suatu kesimpulan akhir.
c)      Mengajarkan siswa berpikir kritis karena selalu dipancing untuk mengeluarkan ide-ide.
d)     Melatih siswa belajar bekerja sistematis.

2.      Kelemahan dari pendekatan induktif antara lain :
a)      Memerlukan banyak waktu.
b)      Sukar menemukan pendapat yang sama karena setiap siswa mempunyai gagasan yang berbeda-beda.

C.    Pendekatan Deduktif
Pembelajaran dengan pendekatan deduktif terkadang sering disebut pembelajaran tradisional yaitu guru memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Dalam bidang ilmu sains dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama siswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan.
Menurut Setyosari (2010:7) menyatakan bahwa “Berpikir deduktif merupakan proses berfikir yang didasarkan pada pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus dengan menggunakan logika tertentu.”
Hal serupa dijelaskan oleh Sagala (2010:76) yang menyatakan bahwa: Pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaaan umum kekeadaan yang khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan khusus.
Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa “Pendekatan deduktif merupakan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu.”
Dalam pendekatan deduktif menjelaskan hal yang berbentuk teoritis kebentuk realitas atau menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Disini guru menjelaskan teori-teori yang telah ditemukan para ahli, kemudian menjabarkan kenyataan yang terjadi atau mengambil contoh-contoh.
Dari penjelasan beberapa teori dapat diambil kesimpulan bahwa  pendekatan deduktif adalah cara berfikir dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.
Menurut Yamin (2008:89) pendekatan deduktif dapat dipergunakan bila:
1)      Siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari,
2)      Isi pelajaran meliputi terminologi, teknis dan bidang yang kurang membutuhkan proses berfikir kritis,
3)      Pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicaraan yang baik,
4)      Waktu yang tersedia sedikit.
Menurut Sagala (2010:76) langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pendekatan deduktif dalam pembelajaran adalah
1.      Guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan deduktif,
2.      Guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum, lengkap dengan definisi  dan contoh-contohnya,
3.      Guru menyajikan  contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan  antara keadaan khusus dengan aturan prinsip umum,
4.      Guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan khusus itu merupakan gambaran dari keadaan umum.
Toni Julianto (2012) dalam makalahnya menyatakan kelebihan dan kelemahan dari pendekatan deduktif dibandingkan dengan pendekatan lain adalah:
1.      Kelebihan pendekatan deduktif antara lain:
a)      Tidak memerlukan banyak waktu.
b)      Sifat dan rumus yang diperoleh dapat langsung diaplikasikan ke dalam soal-soal atau masalah yang konkrit.

2.      Kelemahan pendekatan deduktif antara lain:
a)      Siswa sering mengalami kesulitan memahami makna matematika dalam pembelajaran.
Hal ini disebabkan siswa baru bisa memahami konsep setelah disajikan berbagai contoh.
b)      Siswa sulit memahami pembelajaran matematika yang diberikan karena siswa menerima konsep matematika yang secara langsung diberikan oleh guru.
c)      Siswa cenderung bosan dengan pembelajaran dengan pendekatan deduktif, karena disini siswa langsung menerima konsep matematika dari guru tanpa ada kesempatan menemukan sendiri konsep tersebut.
Pembelajaran deduktif merupakan imbangan yang sangat dekat bagi model pembelajaran induktif. Keduanya dirancang untuk mengajarkan konsep dan generalisasi, mengandalkan contoh dan bergantung pada keterlibatan guru secara aktif dalam membimbing siswa. Perbedaan terletak pada urutan kejadian selama pembelajaran, keterampilan berpikir, cara memotivasi dan waktu yang diperlukan serta biasanya pada pembelajaran pendekatan deduktif seorang guru harus lebih aktif daripada siswanya. Pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab dan simulasi.
Dalam strategi pembelajaran deduktif pesan diolah mulai dari hal yang umum kepada hal yang khusus, dari hal abstrak kepada hal yang nyata, dari konsep-konsep yang abstrak kepada contoh-contoh yang konkrit, dari sebuah premis menuju ke kesimpulan yang logis.
Langkah-langkah dalam strategi deduktif meliputi tiga tahap:
1.      Pengajar memilih pengetahuan untuk diajarkan.
2.      Pengajar memberi pengetahuan kepada peserta didik.
3.      Pengajar memberikan contoh-contoh dan membuktikannya kepada peserta didik.
Misalnya, bila diambil contoh untuk pengajaran tentang kalimat tunggal, maka pengajar memulai dengan definisi kalimat tunggal, contoh-contoh kalimat tunggal, dan dilanjutkan dengan penjelasan ciri-ciri kalimat tunggal. Teknik penyajian pelajaran yang paralel dengan strategi pembelajaran deduktif adalah teknik ceramah.


Pembelajaran deduktif terdiri dari empat tahap
a)      Guru mulai dengan kaidah-kaidah konsep (concept rule) atau pernyataan yang mana dalam pembelajaran diupayakan untuk pembuktiannya,
b)      Guru memberikan contoh-contoh yang menunjukkan pembuktian dari konsep,
c)      Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mendapatkan atribut/ciri dan bukan esensi dari konsep-konsep,
d)     Siswa memberikan beberapa kategori dari contoh yang diberikan oleh guru
Pembelajaran deduktif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan penalaran dari umum ke khusus. Pembelajaran deduktif merupakan imbangan yang sangat dekat bagi model pembelajaran induktif. Keduanya dirancang untuk mengajarkan konsep dan generalisasi, mengandalkan contoh dan bergantung pada keterlibatan guru secara aktif dalam membimbing siswa. Perbedaan terletak pada urutan kejadian selama pembelajaran, keterampilan berpikir, cara memotivasi dan waktu yang diperlukan serta biasanya pada pembelajaran pendekatan deduktif seorang guru harus lebih aktif daripada siswanya. Pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab dan simulasi.
Toni Julianto (2012) dalam makalahnya menyatakan ciri-ciri pembelajaran deduktif adalah sebagai berikut :
a)      Berorientasi pada siswa.
b)      Berstruktur tinggi.
c)      Penggunaan waktu yang lebih efisien.
d)     Kurang memberi kesempatan untuk belajar sewaktu-waktu.
Sintaks pembelajaran deduktif adalah:
a)      Menyatakan abstraksi.
b)      Memberi ilustrasi.
c)      Aplikasi.
d)     Penutup.


Telah dikemukakan bahwa pendekatan deduktif berdasarkan pada penalaran deduktif. Penalaran deduktif merupakan cara menarik kesimpulan dari hal yang umum menjadi ke hal yang khusus. Dalam penalaran deduktf, tidak menerima generalisasi dari hasil observasi seperti yang diperoleh dari penalaran induktif. Dasar penalaran deduktif adalah kebenaran suatu pernyataan haruslah didasarkan pada pernyataan sebelumnya yang benar. Kalau begitu bagaimana untuk menyatakan kebenaran yang paling awal? Untuk mengatasi hal ini dalam penalaran deduktif memasukkan beberapa pernyataan awal/pangkal sebagai suatu “kesepakatan’, yang diterima kebenarannya tanpa pembuktian, dan istilah/pengertian pangkal yang kita sepakati maknanya.
Pengertian pangkal merupakan pengertian yang tidak dapat didefinisikan. Titik, garis, dan bidang merupakan contoh-contoh pengertian pangkal, sebab titik, garis, dan bidang dianggap ada tapi tidak dapat dinyatakan dalam kalimat yang tepat. Pernyataan-pernyataan pangkal yang memuat istilah atau pengertian tersebut dinamakan aksioma atau postulat. Dengan penalaran deduktif dari kumpulan aksioama yang menggunakan pengertian pangkal tersebut, kita dapat sampai kepada teorema-teorema yaitu pernyataan-pernyataan yang benar.
Contoh :
Pembuktian penjumlahan bilangan ganjil adalah genap secara deduktif sebagai berikut :
Misalkan : a1 dan a2 adalah sembarang bilangan bulat, maka 2a1 bilangan genap dan 2a2 bilangan genap, maka 2a + 1 bilangan ganjil dan 2a2 + 1 bilangan ganjil.
Jika dijumlahkan :
(2a1 + 1) + (2a2 + 1)    = 2 a1 + 2a2 + 2
                                    = 2 (a1 + a2 + 1)  sifat tertutup
                                    = 2a
Karena a dan b bilangan bulat maka (a + b + 1) juga bilangan bulat, sehingga 2 (a + b +1)
adalah bilangan genap.
Jadi bilangan ganjil ditambah bilangan ganjil sama dengan bilangan genap (generalisasi)




Jumlah ketiga sudut dalam sebuah segitiga sama dengan 1800.
Misalnya siswa mengukur ketiga sudut sebuah segititga dengan busur derajat dan menjumlahkan ketiga sudut tersebut, ternyata hasilnya sama dengan 1800. Walaupun proses pengukuran dan penjumlahan ketiga sudut ini diberlakukan kepada segitigasegitiga yang lain dan hasilnya selalu sama dengan 1800, tetap kita tidak dapat menyimpulkan bahwa jumlah ketiga sudut dalam sebuah segitiga sama dnegan 1800, sebelum membuktikan secara deduktif.

Pembuktian secara deduktif sebagai berikut :







Garis a // garis b, dipotong oleh garis c dan garis d, maka terbentuk Ð1 , Ð 2 , Ð 3 , Ð 4 , Ð 5.
Р 1 + Р 2 +Р3 = 1800 (membentuk sudut lurus)
Р 1 = Р 4 (sudut-sudut bersebrangan dalam)
Р 3 = Р 5 (sudut-sudut bersebrangan dalam)
Maka : Р 1 + Р 2 + Р 3 = Р 4 +Р2 + Р 5 = 1800
Karena Р 4 + v 2 + Р 5 merupakan Jumlah dari ketiga buah sudut pada sebuah segitiga, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah ketiga sudut dalam sebuah segitiga sama dengan 1800.
Kesimpulan yang didapat dengan cara deduktif ini barulah dapat dikatakan dalil atau
generalisasi.






d.      Pendekatan Pembelajaran Induktif-Deduktif
Pembelajaran induktif-deduktif adalah model pembelajaran yang memadukan model pembelajaran induktif dan model pembelajaran deduktif. Pembelajaran diawali secara induktif dengan memberikan sejumlah contoh agar siswa mengidentifikasi, menginterpretasi data kemudian membuat kesimpulan. Secara deduktif, setelah siswa mampu mendefinisikan atau menggenarilasasikan dapat memberikan contoh atau non contoh serta dapat membuktikannya.
Model pembelajaran induktif-deduktif yang efektif harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a.       Siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan selalu mengekspresikan gagasannya.
b.      Proses berpikir siswa berkembang dari data yang sifatnya spesifik menuju generalisasi.
c.       Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya.
d.      Siswa secara intrinsik termotivasi untuk menemukan konsep dan memberikan bukti atau penjelasan.
e.       Siswa menemukan pengalaman yang banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.
f.       Siswa mampu melakukan penalaran dengan baik.
g.      Guru mengendalikan unsur-unsur yang terlihat, misalnya suasana kelas, data, dan guru sebagai pengendali serta kelas dapat berfungsi sebagai laboratorium.
h.      Dalam pengorganisasiannya dapat dilakukan secara klasikal, individual dan kooperatif.
i.        Pembelajaran secara kooperatif menciptakan suasana yang demokratis di kelas, untuk jangka panjang kondisi seperti ini membawa siswa pada kehidupan nyata di masyarakat (sekolah/kelas dijadikan sebagai miniatur masyarakat).
j.        Siswa terlibat dalam kegiatan yang behubungan dengan data yangada, bahan dan objek sehingga merasa ada pola tertentu dari data yang diperolehnya.
k.      Biasanya ada beberapa generalisasi yang dapat dirumuskan siswa.
l.        Guru memberi kesempatan untuk mengkomunikasikan hasil generalisasi yang diperoleh di kelas.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

·         Strategi pembelajaran induktif dirancang berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar.
·         Pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang berawal dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu kesimpulan, prinsip atau aturan agar siswa mengidentifikasi, menginterpretasi data kemudian membuat kesimpulan.
·         Pendekatan deduktif adalah cara berfikir dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.
·         Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu pernyataan diperoleh sebagai akibat logis kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antar pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Berarti dengan strategi penemuan deduktif, kepada siswa dijelaskan konsep dan prinsip materi tertentu untuk mendukung perolehan pengetahuan matematika yang tidak dikenalnya dan guru cenderung untuk menanyakan suatu urutan pertanyaan untuk mengarahkan pemikiran siswa ke arah penarikan kesimpulan yang menjadi tujuan dari pembelajaran.

B.     Saran
Kami menyadari dalam penyusunan dan penjelasan yang ada di dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami menyarankan untuk dilakukan suatu pengkajian yang lebih mendalam mengenai materi ini. Demi perbaikan makalah kami selanjutnya kami mohon saran dan kritik pembaca yang bersifat membangun. Demikianlah hasil karya tulis kami yang terangkum dalam suatu makalah semoga bermanfaat dan akhirnya kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Shadiq, Fadjar. (2003). Peran Penalaran dan Komunikasi serta Pemecahan Masalah Selama Proses Pembelajaran Matematika dalam Peningkatan Kualitas Siswa. Paket Pembinaan Penataran. Yogyakarta: PPPG Matematika.
Shadiq, Fadjar. Contoh Penalaran Induktif dan Deduktif Menggunakan Kegiatan Bermain-main dengan Bilangan, (fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.wordpress.com)
Suwangsih,Dra.Erna. Makalah “Pendekatan Pembelajaran Matematika” internet.

Drs. Markaban, M.Si, (2008). Model Penemuan Terbimbing pada Pembelajaran Matematika SMK.  Paket Fasilitasi Pemberdayaan Kkg/Mgmp Matematika.Yogyakatra: PPPPTK

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar