Kamis, 12 Mei 2011

UPAYA MENINGKATAN KESEGARAN JASMANI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 BENDAHARA TAHUN PELAJARAN 2010/2011 MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya mengembangkan ranah jasmani, tetapi juga mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olah raga. Pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-spritual-dan sosial), serta pembiasan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.
Pendidikan jasmani memiliki peran yang sangat penting dalam mengintensifkan penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah dan terencana. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru harus dapat mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan / olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur kerjasama, dan lain-lain) dari pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik mental, intelektual, emosional dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan dikdakdik-metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan dan memeliharan kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia.
Namun kenyataan di lapangan dalam masa transisi perubahan kurikulum dari kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 yang semula pendidikan jasmani dan kesehatan dengan alokasi waktu 2 jam per minggu @ 40 menit, sekarang Pendidikan Jasmani dengan alokasi waktu 3 jam per minggu @ 40 menit, masih banyak kendala dalam menerapkan kurikulum tersebut. Hal ini disebabkan karena belum adanya sosialisasi secara menyeluruh di jajaran pendidikan sehingga masih banyak perbedaan penafsiran tentang pendidikan jasmani utamanya dalam pembagian waktu jam pelajaran.
Adanya ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani dalam kurikulum 2004 untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA MA sebenarnya sangat membantu pengajar pendidikan jasmani dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan siswa. Adapun ruang lingkup pendidikan jasmani meliputi aspek permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri / senam, aktivitas ritmik, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas. Sesuai dengan karakteristik siswa SMP, usia 12 – 16 tahun kebanyakan dari mereka cenderung masih suka bermain. Untuk itu guru harus mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif, disamping harus memahami dan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan siswa. Pada masa usia tersebut seluruh aspek perkembangan manusia baik itu kognitif, psikomotorik dan afektif mengalami perubahan. Perubahan yang paling mencolok adalah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologis.
Agar standar kompetensi pembelajaran pendidikan jasmani dapat terlaksana sesuai dengan pedoman, maksud dan juga tujuan sebagaimana yang ada dalam kurikulum, maka guru pendidikan jasmani harus mampu membuat pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Untuk itu perlu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi dalam pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, penulis melakukan penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan Kesegaran Jasmani melalui Pendekatan Bermain dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Siswa Kelas VIII  SMP Negeri 3 Bendahara Tahun Pelajaran 2010/2011.
B.     Identifikasi Masalah
Dengan adanya kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan pedoman bagi guru dan merupakan bahan kegiatan dalam pembelajaran, maka siswa perlu mempelajari dan melaksanakan untuk mencapai kompetensi yang sudah dirumuskan. Untuk mencapai standar kompetensi tersebut bukanlah yang mudah. Adapun permasalahan-permasalahan yang muncul dilapangan adalah sebagai berikut:
1.      Banyak dikalangan pendidikan yang belum memahami tentang perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olah Raga.
2.      Kurangnya pemahaman dari siswa tentang maksud dan tujuan pendidikan jasmani sehingga pada proses pembelajaran belum semua antusias untuk beraktivitas jasmani.
3.      Kurangnya pemahaman tentang arti pentingnya tubuh bugar dan sehat, sehingga mereka mengikuti pendidikan jasmani hanya sekedar ikut dan memperoleh nilai.
C.  Batasan Masalah
Penelitian ini memiliki beberapa batasan yang perlu dikembangkan agar substansi penelitian ini tidak melebar dan agar dapat kesepahaman penafsiran tentang substansi yang ada dalam penelitian ini. Batasan-batasan masalah tersebut adalah sebagaimana berikut ini:
1. Penelitian ini hanya menitikberatkan pada model pembelajaran dengan pendekatan bermain untuk meningkatkan kesegaran jasmani siswa.
2. Penelitian ini menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan bermain pada pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan tingkat kesegaran jasmani siswa.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apakah pembelajaran pendidikan jasmani dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain tingkat kesegaran jasmani siswa dapat meningkat?
2.      Seberapa besar peningkatan tingkat kesegaran jasmani siswa setelah mengikuti model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani.
E.     Tujuan Pendidikan
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani.
2.      Untuk mengetahui seberapa besar perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yaitu :
1.      Guru
Untuk meningkatkan kualitas mengajar dan mencoba menerapkan model pembelajaran sebagai inovasi baru dalam proses pembelajaran
2.      Siswa
Dengan banyaknya model pembelajaran mereka mendapatkan banyak variasi dalam pembelajaran. Selain itu siswa dapat belajar sambil bermain
3.      Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan sekolah untuk mengembangkan model pembelajaran.


BAB II
TINJUAN PUSTAKA
A.    Landasan Teori
Teori-teori tentang upaya meningkatkan kebugaran tubuh telah banyak dikemukakan oleh para pakar. Dalam hubungannya dengan penelitian ini, penulis mencoba menggunakan model pembelajaran beraktivitas jasmani sambil bermain. Aktivitas ini merupakan salah satu metode yang tepat dimana keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sekalipun sambil bermain mereka sudah melaksanakan kegiatan jasmani sebagai upaya untuk menjaga kebugaran tubuh. Hal ini sangat bagus untuk melatih kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif siswa. Dari judul tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan bermain merupakan variabel bebas (independent variable), sedangkan tingkat kesegaran jasmani siswa sebagai variabel terikat (dependent variable).
1.      Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif dan afektif setiap siswa. Pengalaman yang disajikan akan membantu siswa untuk memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan efektif. (Kurikulum Penjas SMP, 2004).
Dari banyak pendapat tentang pengertian pendidikan jasmani, dapat disimpulkan pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik diarahkan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional. (Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi SMP, 2004).
2.      Materi Pendidikan Jasmani SMP/MTs
Struktur materi pendidikan jasmani dikembangkan dan disusun dengan menggunakan model kurikulum kebugaran jasmani dan pendidikan olahraga (Jewwet, Ennis, and Bain, 1995). Asumsi yang digunakan oleh kedua model ini adalah untuk menciptakan gaya hidup sehat dan aktif, manusia perlu memahami hakikat kebugaran jasmani dengan menggunakan resep latihan yang benar.
Materi mata pelajaran pendidikan jasman SMP/MTs meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Pengalaman mempraktikkan latihan untuk mempertahankan dan meningkatkan kebugaran jasmani
b. Pengalaman mempraktikkan keterampilan dasar atletik, senam, permainan dan beladiri
c. Keterampilan memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani, pengetahuan hakikat kebugaran jasmani, serta pengetahuan praktis latihan kebugaran jasmani
d. Penerapan peraturan, dan praktik yang aman dalam pelaksanaan kegiatan atletik, senam, permainan dan beladiri
e. Perilaku yang menggambarkan sikap sportif dan positif, emosi yang stabil, dan gaya hidup yang sehat
Materi pendidikan jasmani SMP/MTs merupakan kelanjutan dari materi di Sekolah Dasar, dan dilanjutkan di SMA. Mater pembelajaran untuk kelas VII dan VIII SMP/MTs meliputi keterampilan dasar olahraga, kesegaran jasmani, dan pembentukan sikap dan perilaku untuk membentuk kecakapan hidup personal.
3. Karakteristik Pendidikan Jasmani
Pendidikan Jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di SMP/MTs, yang mempelajari dan mengkaji gerak manusia secara interdisipliner. Gerak manusia adalah aktivitas jasmani yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan keterampilan motorik, mengembangkan sikap dan perilaku agar terbentuk gaya hidup yang aktif. Aktivitas jasmani yang dilakukan berupa aktivitas bermain, permainan, dan olahraga.
4. Karakteristik Siswa SMP/MTs
Selama di SMP/MTs, seluruh aspek perkembangan manusia yaitu psikomotor, kognitif, dan efektif mengalami perubahan yang luar biasa. Siswa SMP/MTs mengalami masa remaja, satu periode perkembangan sebagai transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa remaja dan perubahan yang menyertainya merupakan fenomena yang harus dihadapi oleh guru.

1) Perkembangan aspek psikomotorik
Wuest dan Lombardo (1974) menyatakan bahwa perkembangan aspek psikomotor seusia siswa SMP/MTs ditandai dengan perubahan jasmani dan fisiologis secara luar biasa. Salah satu perubahan luar biasa tersebut adalah pertumbuhan tinggi badan dan berat badan.
2) Perkembangan aspek kognitif
Arasoo T.V (1986) menyatakan bahwa aspek kognitif meliputi fungsi intelektual, seperti pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan berpikir. Untuk siswa SMP/MTs perkembangan kognitif utama yang dialami adalah formal operasional yang mampu berfikir abstrak dengan menggunakan simbol-simbol tertentu. Selain itu ada peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas memori dan bahasa, dan perkembangan konseptual.
3) Perkembangan aspek afektif
Menurut Arasoo T.V (1986), ranah afektif menyangkut perasaan, moral dan emosi. Perkembangan afektif siswa SMP/MTs mencakup proses belajar perilaku dengan orang lain atau sosialisasi. Sebagian besar sosialisasi berlangsung lewat pemodelan dan peniruan orang lain.
4.      Model Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain
Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka. Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya.
5.      Kesegaran Jasmani
Sadoso (1989 : 9) Kesegaran jasmani adalah keadaan atau kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas atau tugas-tugasnya sehari-hari dengan mudah tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih mempunyai siswa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya untuk keperluan-keperluan lainnya.
Komponen atau faktor kesegaran jasmani dan komponen kesegaran motorik merupakan satu kesatuan utuh dari komponen kondisi fisik. Agar seseorang dapat dikategorikan kondisi fisiknya baik, maka status komponen-komponennya harus berada dalam kondisi baik pula. Adapun komponen atau faktor jasmani adalah : kekuatan, daya tahan kelenturan.
B.     Kerangka Berfikir
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan banyak sekali hal-hal yang dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, salah satunya yaitu melalui aktifitas jasmani. Pendidikan jasmani dapat digunakan sebagai bentuk kegiatan siswa dalam upaya menjaga dan sekaligus meningkatkan tingkat kesegaran jasmani. Dengan mempertimbangkan karakter dan perkembangan siswa guru harus dapat merencanakan dengan matang proses pembelajaran. Dalam membuat perencanaan tersebut guru bisa menggunakan pendekatan, teknik, metode ataupun model pembelajaran.
C. Hipotesis
Dari uraian di atas hipotesis penelitiannya adalah melalui pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani tingkat kesegaran jasmani siswa dapat meningkat.


BAB III

METODE PENELITIAN
A.    Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dengan penelitian tindakan kelas peneliti dapat mencermati suatu obyek dalam hal ini siswa, menggunakan pendekatan atau model pembelajaran tertentu untuk meningkatkan tingkat kesegaran jasmani siswa. Melalui tindakan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu dalam bentuk rangkaian siklus kegiatan. Dengan demikian perkembangan dalam setiap kegiatan dapat terpantau
B.     Setting dan Karakteristik Subyek
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VIII  SMP Negeri 3 Bendahara yang berjumlah 32 orang. Kelas VIII  merupakan kelas rintisan Unggulan yang kalau dilihat dari kemampuan akademisnya mereka mempunyai rata-rata yang lebih baik dari pada kelas yang lain. Demikian juga bila dilihat dari perilaku dan kedisiplinannya mereka juga relatif lebih baik dari kelas yang lain. Namun demikian pada saat diadakan tes tingkat kesegaran jasmani dengan menggunakan tes lari 2,4 km, ternyata hasilnya justru paling rendah dibandingkan dengan kelas lain. Disamping hasil tes tingkat kesegaran jasmaninya paling rendah, anak-anak dikelas tersebut pada saat mengikuti kegiatan dalam pembelajaran juga kurang antusias. Bahkan kadang-kadang ada sebagian dari mereka dalam mengikuti pembelajaran sambil membawa rangkuman ataupun catatan, yang kalau tidak ketahuan mereka sembunyi-sembunyi memanfaatkan waktunya untuk membaca. Mereka mengikuti pelajaran pendidikan jasmani hanya sekedar hadir dan nantinya mendapatkan nilai.
C.    Prosedur penilaian
A.    Siklus I
Dalam kegiatan siklus yang pertama penulis melaksanakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan yaitu kegiatan olahraga tradisional.
1.      Pemanasan
Dalam kegiatan pemanasan kita buat dalam bentuk-bentuk permainan yang menyenangkan. Misalnya : berlari kecil berkelompok sambil memegang bahu sambil bernyanyi bersama, berlari sambil berpegangan tangan dengan bervariasi dari arah kanan ke arah kir bergantian, berlari kecil sambil meloncat dilakukan berpasangan berdua atau bertiga, bahkan dapat dilakukan dengan kelompok yang lebih banyak asalkan jumlahnya ganjil, satu orang berada diantara kelompok sebagai pusat pegangan dan masih banyak lagi bentuk kegiatan pemanasan sambil bermain.
2.      Kegiatan inti
Dalam kegiatan ini dilaksanakan kegiatan out door games. Bentuk kegiatan out door games yang pertama dilaksanakan bentuk kegiatan yang berorientasi pada melatih kekuatan, kelincahan, kelenturan tubuh disamping juga melatih unsur kognitif dan afektif siswa. Sebenarnya banyak sekali jenis out door games yang dapat dilaksanakan dalam pendidikan jasmani, namun dalam siklus I penulis melaksanakan kegiatan bentengan.
Permainan ini berasal dari permainan anak-anak yang awalnya mempergunakan pohon atau tiang sebagai sarana bentengnya. Supaya ada bentuk variasi lain maka kita kembangkan jenis permainan ini dengan media lain. Prasarana : berupa lapangan seluas lapangan basket. Sarana : bekas botol plastik, bekas tempat bola tenis, dengna jumlah5 sampai 10 buah, sebagai benteng yang harus direbut dan dilarikan dari daerah musuh. Cara bermainnya sama dengna permainan bentengan lainnya, hanya saja pada bentengan ini yang diperebutkan adalah bekas tempat bola tenis, atau botol bekas minuman. Langkah pertama peserta dibagi dua team dengan jumlah sama banyak. Benteng yang terbuat dari botol, atau gelas plastik berada dibelakang team masing-masing. Tiap team dibagi dalam 3 kelompok masing-masing sebagai team penyerang, pengecoh lawan dan yang mempertahankan benteng. Team pemenang adalah team yang berhasil lebih dahulu merebut seluruh benteng lawan. Bila dibatasi dengan waktu maka team pemenang adalah team yang paling banyak mengumpulkan benteng lawan,
3.      Kegiatan Akhir
Dalam kegiatan akhir setelah penenangan diadakan evaluasi sekaligus pemberian motivasi pada mereka yang masih belum maksimal dalam beraktivitas.
B.     Siklus II
Dalam siklus kedua dicobakan untuk aspek yang lain yaitu aspek aktivitas ritmik. Bentuk kegiatannya pun sama seperti pada siklus I, hanya bedanya kegiatan ini dilaksanakan di dalam ruangan. Hal ini sambil memantau semangat mereka dalam beraktivitas selama dilapangan ataupun dalam ruangan. Dalam kegiatan pemanasan dibuat dalam bentuk-bentuk permainan sambil bergerak dan juga sambil bernyanyi. Kemudian dalam kegiatan inti kita berikan contoh-contoh gerakan sambil mereka menirukan dan biarkan mereka mengikuti sambil bernyanyi. Untuk itu kita pilih kaset-kaset yang lirik dan lagunya disukai oleh anak-anak. Setelah itu dibuat kelompok-kelompok, biarkan mereka untuk bermain dan berkreasi menciptakan gerakan-gerakan sesuai dengan ide dan gagasan mereka.
C.     Siklus III
Pada siklus II kita cobakan jenis kegiatan aktivitas jasmani yang selama ini kurang disenangi oleh para siswa yaitu atletik pada nomor lempar lembing. Pada kegiatan inipun kita berlakukan mulai pemanasan sampai kegiatan inti dengan pendekatan bermain. Pada saat pemanasan kita gunakan bola tenis dengna jumlah yang cukup. Secara berkelompok ataupun berpasangan biarkan mereka bermain lempar tangkap sambil main kucing-kucingan. Selama kegiatan pemanasan yang penting mereka melakukan gerakan ada unsur lari, lempar tangkap baik itu berpasangan maupun kelompok. Pada kegiatan inti mereka tidak langsung menggunakan lembing. Biarkan mereka tetap menggunakan bola tetapi kita arahkan untuk lemparannya sudah menggunakan teknik lemparan lembing. Hal itu dilakukan secara berulang-ulang biarkan mereka sambil bermain. Kalau sebagian besar teknik lemparan sudah benar kita lombakan untuk melempar lebih jauh. Bagi yang mereka lemparannya jauh kita berikan pujian. Bagi yang belum betul dan belum jauh, kita beri semangat supaya tidak kalah dengan yang lain. Setelah mereka paham dan bisa membedakan teknik lemparan biasa dengan teknik lemparan lempar lembing baru kita kenalkan dengan lembing yang sesungguhnya. Itupun kita buat dalam bentuk bermain, tetapi untuk faktor keamanan dan keselamatan tetap kita perhatikan.

BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
A.    Pelaksanaan
1.      Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian mulai dilaksanakan pada semester gasal bulan Agustus 2010, penelitian ini dilaksanakan pada saat pelajaran pendidikan jasmani di Kelas VIII . Adapun jadwal pendidikan jasmani di kelas tersebut 2 kali pertemuan per minggunya yaitu 2 jam pelajaran pada hari Senin jam ke 2 – 3. dengan demikian mereka beraktivitas jasmani 1 kali selama satu minggunya di sekolah. Sebagaimana telah penulis sampaikan di depan, bahwa kelas VIII  merupakan kelas yang paling rendah dair hasil tes 2,4 km diantara 5 kelas yang ada di sekolah kami. Disamping itu kelas ini juga sebagian dari mereka kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dibandingkan dengan kelas-kelas yang lainnya. Adapun tempat pelaksanaan kegiatannya ada yang dilaksanakan dilapangan sekolah, gedung serba guna dan juga dilaksanakan dilapangan Sepak Bola SMP Negeri 3 Bendahara yang ada lintasan larinya.
2.      Pelaksana Tindakan
Pada setiap siklus diupayakan mulai dari awal kegiatan kita ciptakan suasana yang menarik, kita hilangkan kesan bahwa aktivitas jasmani merupakan kegiatan yang membuat lelah. Kita beri kesempatan pada siswa mulai dari awal pemanasan dengan beraktivitas jasmani sambil bersendau gurau, bernyanyi, biarkan sambil berteriak, yang pasti mereka harus beraktivitas baik secara berpasangan atuapun berkelompok. Setelah mereka melakukan pemanasan sambil membuat lingkaran atau dengan cara berkumpul yang menarik, kita beri penjelasan tentang kegiatan inti dengna pendekatan bermain. Selanjutnya setelah mereka memahami tentang tata cara bermainnya dibagi kelompok. Biarkan mereka bermain sekalipun ada yang sambil berteriak yang penting mereka senang. Tanpa mereka sadari mereka telah melaksanakan aktivitas jasmani selama jam pelajaran berlangsung.
Unsur pendidikan yang di dapat adalah :
1) unsur kognitif : melatih anak untuk dapat mencermati medan dengan cepat, mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, memprediksi kegagalan, mengantisipasi permasalahan dengan cepat.
2) Afektif : melatih anak untuk bersikap sportif, fair play, bekerjasama, bersosialisasi.
 3) psikomotorik. Dengan melakukan kegiatan aktivitas jasmani sambil bermain ini anak akan memiliki kemampuan motorik yang tinggi, terdapat unsur-unsur endurance, flexibility, agality, speed, coordination, accuray.
B. Hasil Penelitian
Instrumen tes yang digunakan adalah tes kesegaran jasmani dengan tes lari 2,4 km yang sering disebut juga Cooper test. Berikut ini adalah tabel tingkat kesegaran jasmani yang diambil dari Cooper test untuk umur 13 – 19 tahun.
No Waktu tempuh Tingkat kesegaran jasmani putra
1 Kurang dari 09,37 menit Istimewa
2 08.38 – 09.40 menit Sangat baik
3 09.41 – 10.48 menit Baik
4 10.49 – 12.10 menit Sedang
5 12.10 – 15.30 menit Kurang
6 Lebih dari 15.31 menit Sangat kurang

No Waktu tempuh Tingkat kesegaran jasmani putra
1 Kurang dari 11.50 menit Istimewa
2 11.50 – 14.30 menit Sangat baik
3 13.30 – 14.30 menit Baik
4 14.31 – 16.34 menit Sedang
5 16.35 – 18.30 menit Kurang
6 Lebih dari 18.31 menit Sangat kurang

Pelaksanakan tes lari jarak 2,4 km yaitu siswa berdiri dibelakang garis start setelah aba-aba ”Ya” siswa lari menempuk jarak 2,4 km secepat mungkin. Sekor yang dicatat adalah waktu tempuh lari jarak sejauh 2,4 km. Untuk menentukan kategori dari hasil tes tersebut digunakan tabel Cooper test seperti tabel di atas. Hasil tes lari 2,4 km sebelum dan sesudah diadakan tindakan dengan pendekatan bermain untuk siswa kelas VIII  adalah sebagai berikut:
a.       Kelompok Putra
No Sebelum
(Jumlah siswa) Sesudah
(Jumlah siswa) Tingkat kesegaran jasmani
1 - - Istimewa
2 - Sangat baik
3 1 3 Baik
4 3 6 Sedang
5 6 3 Kurang
b.      4 2 Sangat kurang
b.      Kelompok Putri
No Sebelum
(Jumlah siswa) Sesudah
(Jumlah siswa) Tingkat kesegaran jasmani
1 - - Istimewa
2 - - Sangat baik
3 - 1 Baik
4 3 6 Sedang
5 6 5 Kurang
6 9 6 Sangat kurang
Dari hasil tersebut di atas, nampak sekali ada perbedaan. Dalam kegiatan pada sebelum diadakan tindakan dengan pendekatan bermain banyak anak yang cenderung pasif, tetapi setelah dibuat dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain anak lebih termotivasi untuk beraktivitas jasmani. Hal ini disebabkan karena mereka dapat melaksanakan aktivitas jasmani sambil bermain. Apabila pada siklus-siklus berikutnya pada setiap kegiatan dibuat model pembelajaran dengan pendekatan bermain pada aspek-aspek yang lain tentunya akan lebih baik dan menguntungkan baik untuk pengajar maupun siswa. Karena dengan demikian stamina akan tetap terjaga sehingga tingkat kesegaran jasmaninya juga akan lebih meningkat
BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
1.      Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, salah satunya yaitu melalui aktivitas jasmani. Dengan demikian pendidikan jasmani dapat digunakan sebagai bentuk kegiatan siswa dalam upaya menjaga dan meningkatkan kesegaran jasmani.
2.      Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani sangat diperlukan adanya model dan variasi pelajaran. Untuk itu pengajar sebaiknya dapat membuat model ataupun modifikasi pembelajaran, salah satunya adalah model pembelajaran dengan pendekatan bermain.
B. Saran
Setelah diadakan penelitian tindakan kelas tentang upaya meningkatkan kesegaran jasmani siswa membuktikan bahwa dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain aktivitas jasmani siswa lebih termotivasi karena mereka dapat belajar sambil bermain. Untuk itu penulis menyampaikan saran sebagai berikut :
1.      Guru pendidikan jasmani hendaknya banyak melaksanakan dengan pendekatan, teknik, metode ataupun model pembelajaran sebagai bentuk modifikasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani
2.      Model pembelajaran dengan pendekatan bermain dapat diterapkan dalam pendidikan jasmani untuk semua jenjang
3.      Guna menunjang aktivitas dalam pendidikan jasmani sarana dan prasaran hendaknya disediakan sekalipun dalam memodifikasi pembelajaran dapat menggunakan peralatan yang sederhana, yang penting semua siswa harus beraktivitas jasmani selama pelajaran berlangsung.




DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2003, Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani SMP/MTs, Jakarta : Depdiknas.
Depdiknas, 2003, Undang-Undang R.I Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : Depdiknas
J. Mata Kupan, 2002, Teori Bermain, Jakarta : Universitas Terbuka
Ngalim Purwanto. M, 2003, Ilmu Pendidikan Teori dan Praktik, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Winata Putra Udin, 1994, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Universitas Terbuka


ILMU KALAM


SEJARAH KEMUNCULAN ILMU KALAM

DALAM ISLAM


A. PENDAHULUAN

Teologi, sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama setiap orang ingin menyelami seluk beluk agama secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diombang-ambing oleh peredaran zaman.
Dalam istilah Arab ajaran-ajaran dasar itu disebut Ushul Al-Din. Teologi dalam Islam disebut juga ‘Ilm Al-Tauhid’ kata Tauhid mengandung arti satu atau esa dan keesaan dalam pandangan Islam sebagai agama monoteisme merupakan sifat yang terpenting diantara segala sifat-sifat Tuhan. Selanjutnya teologi Islam disebut juga ‘Ilm Al-Kalam’ kalam adalah kata-kata. Kalau yang dimaksud dengan kalam ialah firman Tuhan, maka teologi dalam Islam disebut ‘Ilm Al-Kalam, karena soal, kalam firman Tuhan atau Al-Quran pernah menimbulkan pertentangan-pertentanngan keras dikalangan umat Islam diabad – IX dan X Masehi, sehingga timbul penganiayaan dan pembunuhan-pembunuhan terhadap sesama muslim pada masa itu.

Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada ajaran yang bersifat liberal, ada yang bersifat tradisional dan ada pula yang memiliki sifat antara liberal dan tradisional. Hal ini mungkin ada hikmahnya bagi para masing-masing aliran tersebut.

Makalah ini selanjutnya akan membahas Sejarah Munculnya Ilmu Kalam dalam Islam dimulai dari nama dan pengertian Ilmu Kalam, sumber-sumber, latar belakang, dan sejarah Ilmu Kalam serta perkembangannya.
Makalah disusun oleh Abdul Pandi, Abdul Rozi, Agung Sundoko, dan Ahmad Zaini, guna memenuhi tugas masa kuliah Ilmu Kalam.

B. NAMA DAN PENGERTIAN ILMU KALAM

Istilah Ilmu Kalam mengacu pada ulama yang membahas masalah-masalah “kalam” Allah. “ Kalam Allah” memiliki tiga acuan. Pertama, mengacu pada perkataan Allah yang diucapkan-Nya. Disebut Ilmu Kalam karena ilmu ini membahas masalah kalam Allah. Kedua, mengacu pada para Mutakallimin (ahli kalam) yang berdebat atau bertukar pikiran (kalam) mengenai masalah-masalah ketuhanan. Terlepas dari kedua kecenderungan tersebut, masalah “kalam Allah” memang menjadi pokok pembicaraan dalam ilmu ini.
Ilmu Kalam dikenal juga dengan nama lain theologi, ilmu ushuluddin; ilmu tauhid dan fiqh al-akbar. Theologi berarti ilmu ketuhanan, yakni cabang ilmu yang mempelajari segala sesuatu menganai Tuhan dan ajaran-Nya. Sebenarnya teologi berbeda dengan ilmu kalam. Teologi hanya dikenal di dunia Kristen yang dihubungkan dengan ilmu agama secara keseluruhan. Teologi disebut sebagai “ilmu Tuhan,” ilmu segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan. Maka dalam tradisi Kristen, teologi berbicara tentang berbagai masalah yang menyangkut dengan agama, termasuk di dalamnya bagaimana mengatur masyarakat, menafsirkan bible, dan aspek mistik dalam agama. Sementara dalam tradisi Islam persoalan hukum dan tafsir serta mistik dipelajari terpisah dalam fiqh, tafsir dan tasawuf. Sementara ilmu tentang Tuhan sendiri dalam Islam dipelajari dalam Ilmu Kalam. Namun demikian, untuk menyederhanakan, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan teologi adalah Ilmu Kalam itu sendiri.

Ilmu ushuluddin berarti ilmu tentang dasar-dasar agama. Masalah ketuhanan merupakan masalah dasar agama. Agama yang ada dan dianut oleh manusia pada hakikikatnya berasal dari Tuhan. Dan Tuhan-lah yang menjadi pusat dari keseluruhan praktik beragama. Karenanya mempelajari tentang Tuhan akan mempunyai landasan awal dalam mempelajari agama secara keseluruhan. Sementara “sementara tauhid” adalah ilmu yang mempelajari tentang keesaan Allah dan tidak ada syarikat bagi-Nya. Tujuan akhir ilmu ini adalah membuktikan keesaan-Nya dengan memberikan berbagai dalil, baik dalil naqli maupun dalil aqli. Ilmu Kalam disebut pula dengan fiqh al-akbar. Penyebutan ini mengacu pada klasifikasi keilmuan Islam dalam dua aspek, yakni ilmu-ilmu yang teoritis yang menyangkut keyakinan dan ilmu-ilmu aplikatif yang menyangkut penafsiran dan pelaksanaan agama dalam kehidupan. Ilmu Kalam dianggap bagian dari ilmu teoritis yang paling utama dan pertama. Karenanya ia disebut dengan fiqh al-akbar (www.RahmatFauza,ZuriRizkiZias&ZahrulFaizin.w4kg3ng.co.cc/26/10/2009).
Ada juga yang menyatakan bahwa Kalam adalah Ilmu Tauhid. Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menetapkan aqidah agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil-dalil itu merupakan dalil naqli, dalil aqli, ataupun dalil widjani (perasaan halus). Karena pembahasannya yang paling menonjol menyangkut pokok ke-Esaan Allah yang merupakan asas pokok agama Islam, maka para ulama (mutakallimin) Ilmu Tauhid ini dinamakan Ilmu Kalam dan baru dikenal di masa Abbasiyah sedangkan merintis Ilmu Kalama adalah Abu Hasim (Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, 2001: 1)


C. SUMBER-SUMBER ILMU KALAM

Ada dua pengaruh yang dapat ditelusuri yang sekaligus juga sebagai sumber dan asal usul kemunculan Ilmu Kalam, yakni

1) Sumber Langsung

a) Al-Qur’an

Al-qur’an merupakan motivasi sehingga memunculkan pemikiran dalam Islam. Tiada lain adalah sebagai upaya akal dari para ulama Islam untuk menerangkan Islam dari sumbernya yang asli (Al-Qur’an).
Sebagai sumber Ilmu Kalam Al-Quran banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan, diantaranya adalah :

1) Q.S. Al-Ikhlas (112) : 3 – 4

2) Q.S. Asy-Syura (42) : 7

3) Q.S. Al- Furqan (25) : 59

4) Q.S. Al-Fath (48) : 10

5) Q.S. Thaha (20) : 39

6) Q.S. Ar-Rahman (55) : 27

7) Q.S. An-Nisa’ (4) : 125

8) Q.S. Al-Lukman (31) : 22

9) Q.S. Ali Imran (3) : 83 – 85

10) Q.S. Al-Anbiya (21) : 92

11) Q.S. Al-Hajj (22) : 78

Ayat-ayat diatas berkaitan dengan zat, sifat, asma, perbuatan, tuntunan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan eksitensi Tuhan.

(www.RahmatFauza,ZuriRizkiZias&ZahrulFaizin.w4kg3ng.co.cc/26/10/2009).
b) Hadits

Ada pula beberapa hadits yang kemudian dipahami sebagian ulama sebagai prediksi Nabi SAW mengenai kemunculan berbagai golongan dalam Ilmu Kalam diantaranya adalah ;

“Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar . Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa Bani Israil telah terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan saja, “ Siapa mereka itu wahai Rasulullah ?” Tanya para sahabat. Rasulullah menjawab, mereka adalah yang mengikuti jejak ku dan sahabat-sahabatku.’

Keberadaan Hadis-hadis diatas lebih dimaksudkan sebagai peringatan bagi para sahabat dan umat nabi tentang bahayanya perpecahan dan pentingnya persatuan (Adeng Mushtar Ghazali. 2003: 18).
2) Sumber Tidak Langsung

a) Pemikiran Manusia

Pemikiran manusia dalam hal ini, baik berupa pemikiran umat Islam sendiri atau pemikiran yang berasal dari luar umat Islam. Bentuk konkrit penggunaan pemikiran Islam sebagai sumber Ilmu Kalam adalah ijtihad yang dilakukan para Mutakallim dalam persoalan-persoalan tertentu yang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur’an dan hadits misalnya persoalan Manzillah Bain Al-Manzilatain (Posisi tengah diantara dua posisi) di kalangan Mu’tazilah.

Adapun sumber Ilmu Kalam berupa pemikiran yang berasal dari luar Islam dapat di klasifikasikan dalam dua katagori. Pertama, pemikiran non muslim yang telah menjadi peradaban lalu ditransfer dan diasimilasikan dengan pemikiran umat Islam. Proses transfer dan asimilasi ini dapat dimaklumi karena sebelum Islam masuk dan berkembang, dunia Arab (timur tengah) adalah suatu wilayah tempat diturunkannya Agama-agama samawi lainnya. Kedua, berupa pemikiran-pemikiran yang bersifat akademis, seperti Filsafat (terutama dari Yunani), sejarah dan sains

(www.RahmatFauza,ZuriRizkiZias&ZahrulFaizin.w4kg3ng.co.cc/26/10/2009).
b) Insting

Secara Instingtif, manusia selalu ingin bertuhan. Oleh sebab itu kepercayaan adanya Tuhan telah berkembang sejak adanya manusia pertama.

Abbas Mahmud Al-Akkad, mengatakan bahwa sejak pemikiran pemujaan terhadap benda-benda alam berkembang, di wilayah-wilayah tertentu pemujaan berkembang secara beragam.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan, secara instingtif, telah berkembang sejak keberadaan manusia pertama. Oleh sebab itu, sangat wajar kalau William L. Resee mengatakan bahwa ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan, yang dikenal dengan istilah dengan theologia, telah berkembang sejak lama. Ia bahkan mengatakan bahwa teologi muncul dari sebuah mitos (thelogia was originally viewed as oncerned). Selanjutnya, teologi itu berkembang menjadi “theology natural” (teologi alam) dan “revealed theology” (teologi wahyu).

D. LATAR BELAKANG LAHIRNYA ILMU KALAM

Dengan mengutip Asyahrastani, All Asy-Syabi mengatakan bahwa istilah Kalam mula-mula muncul pada masa pemerintahan khalifah Al-makmun (813-833M) dari daulah Abbasiyahdan dirintis oleh Abu Hasim. Alasan utama menggunakan istilah Kala mini boleh jadi karena masalah paling menonjol yang mereka perdebatkan yaitu tentang bicara sebagai salah satu sifat Tuhan.

Berbeda dengan pandangan Montogomery Watt, seorang Orentalis (orang yang meninjau atau melihat-lihat) dan Ismolog (ilmu yang menerangkan seluk beluk Islam)terkenal, bahwa istilah “Kalam” yang dikaitkan dengan ilmu keislaman itu jelas sekali mula-mula muncul sebagai ejekan yang mengisyaratkan bahwa para pendukungnya ialah orang-orang yang hanya berbicara (Al-Mutakallimun). Akan tetapi istilah itu berkembang menjadi istilah yang netral. Pendapat yang mirip itu dikemukakan oleh Michael Cook yang mengatakan bahwa para ahli kalam adalah pasukan dealestik (berfikir secara logis dan teliti) dari aliran-aliran yang saling bertengkar yaitu duta-duta ahli dalam kelompok-kelompok yang terlibat perang kata (Adang Muchtar Ghazali, 2005: 24)

Sedangkan menurut Erwin Mahrus dan Haitami Salim munculnya aliran dalam teologi Islam dapat dilatarbelakangi oleh sejumlah faktor penting. Pertama, pengaruh politik. Kedua, pengaruh filsafat. Ketiga, pengaruh perbedaan dalam memahami al-Qur,an.

1) Pengaruh Politik

Persoalan teologi di zaman Nabi Muhammad SAW ditanamkan oleh beliau melalui sikap dan tingkahlaku. Apabila muncul suatu masalah dapat langsung ditanyakan kepada Nabi.
Pada zaman Abu Bakar, umat Islam masih berada dala kondisi tenang. Akan tetapi setelah dia wafat dan diganti oleh Umar kemudian Utsman, mulailah timbul fitnah dan stabilitas politikpun terganggu. Misalnya, isu yang disebarkan oleh Abdullah ibn Saba’ bahwa orang yang paling berhak menggantikan Nabi adalah Ali ibn Thalib. Jadi Abu Bakar dan Utsman adalah mengambil hak Ali.
Perselisihan umat Islam tersebut terus berlanjut. Dan puncaknya pada waktu perang antara Ali ibn Abi Thalib dengan Mu’awiyah yang lebih dikenal dengan perang Shiffin, demikian pula perselisihan antara Ali ibn Abi Thalib dengan Aisyah yang menimbulkan perang Jamal.

Pada masa ini seorang yang berkecimpung dalam paham Muktazilah kurang lebih 40 tahun lamanya ingin menjembatani paham-paham yang saling bertentangan itu. Orang itu ialah Abdul Hasan Al-Asy’ari dan selanjutnya dibantu oleh Imam Maturidi. Kedua ulama ini merupakan tokoh dari paham Ahlus Sunnah Aljamaah.
Persoalan-persoalan politik di atas, kemudian melahrkan beberapa aliran-aliran kalam, yaitu Syi’ah, Khawarij, Murjiah, Qadariah, Jabariah, Mu’tazilah, dan Ahli Sunnah Waljama’ah yang akan dibahas kelompok berikutnya (ErwinMahrus dan Moh. Haitami Salim, 2008: 100-101)
2) Pengaruh Filsafat

Dua abad semenjak Rasulullah SAW wafat, filsafat Yunani lebih dikenal oleh umat Islam dan para ulama melihat ada segi-segi positif dari filsafat itu yang dianggap dapat ,enunjang pembinaan dan pengembangan ajaran Islam dan sekaligus merupakan alat untuk memperluas wilayah umat Islam.
Umat Islam mulai tertarik dengan filsafat dan memusatkan perhatiannya- terutama ulama-ulama yang agak rasional- untuk menggunakan filsafat dalam mempertahankan atau memperkuat aqidah.
Perkenalan umat Islam dengan kebudayaan dan peradaban luar terutama yang berkaitan dengan filsafat ketuhanan, ditunjang pula dengan kemenangan umat Islam mempelajari pengetahuan, sistem berfikir dan filsafat mereka. Saat itu pula pengaruh-pengaruh kebudayaan dan peradaban asing mulai meresap dalam tubuh umat Islam (ErwinMahrus dan Moh. Haitami Salim, 2008: 116-117)

3) Pengaruh Perbedaan Pemahaman Terhadap Ayat-ayat Al-Qur’an

Faktor lain yang berkaitan dengan pemahaman ayat Al-Qur’an ialah kadar pengetahuan dan penghayatan umat Islam terhadap nash agama yang kelihatan bertentangan, sehingga terjadilah penafsiran Al-Qur,an dan Hadits yang berbeda antara ulama yang satu dengan yang lain (ErwinMahrus dan Moh. Haitami Salim, 2008: 118)

E. SEJARAH KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGAN ILMU KALAM

1) Sejarah Kemunculan Ilmu Kalam

Pertama kali ilmu kalam mulai dirintis oleh Abu hasim dan diperkenalkan oleh Ibn Hasan bin Muhammad bin Hanafiah. Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Ustman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Muawwiyah dan Ali bin Abi Thalib mengkristal menjadi Perang Siffin yang berakhir dengan keputusan tahkim (arbitrase). Sikap Ali yang menerima tipu muslihat Amr bin Al-Ash, utusan dari pihak Muawwiyah dalam tahkim, sungguhpun dalam keadaan terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka berpendapat bahwa persoalan yang terjadi saat itu tidak dapat diputuskan melalui tahkim. Putusan hanya datang dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam Al-Quran. La Hukma Illa Lillah (tiada hukum selain dari hukum Allah) atau La Hukma Illa Allah (tiada perantara selain Allah) menjadi semboyan mereka. Mereka memandang Ali bin Abi Thalib telah berbuat salah, sehingga mereka meninggalkan barisannya. Dalam Sejarah Islam mereka terkenal dengan nama Khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri atau Secerders.

Harun lebih lanjut melihat bahwa persoalan Kalam yang pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetapdalam Islam. Khawarij sebagaimana yang telah disebutkan bahwa memandang bahwa orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim, yakni Ali, Muawwiyah, Amr bin Al-Ash, Abu Musa Al-Asy’ari. Adalah kafir berdasarkan firman Allah pada surat Al-Maidah ayat 44.

1) Persoalan ini telah menimbulkan tiga aliran teologi umum dalam Islam yaitu,
Aliran Khawarij, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti telah keluar dari Islam (murtad) dan wajib dibunuh.

2) Aliran Murji’ah, menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap mukmin dan bukan kafir. Adapun dosa yang dilakukannya, hal terserah kepada Allah untuk mengampuni atau menghukumnya.
3) Aliran Mu’tazilah, yang tidak menerima kedua pendapat diatas. Bagi mereka, orang yang berdosa besar bukan kafir dan bukan mukmin. Mereka mengambil posisi antara mukmin dan kafir yang dalam bahasa Arabnya terkenal dengan istilah Al-Manzilah Manzilatain (posisi diantara dua posisi).
Dalam Islam, timbul pula dua aliran teologi yang terkenal dengan nama Qadariah dan Jabariah. Menurut Qadariah manusia memiliki kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya. Adapun Jabariah berpendapat sebaliknya bahwa manusia tidak memiliki kemerdekaan dalam kehendak dalam perbuatannya.
(www.RahmatFauza,ZuriRizkiZias&ZahrulFaizin.w4kg3ng.co.cc/26/10/2009).
2) Perkembangan Ilmu Kalam

Perkembangan Ilmu Kalam sejalan dengan perkembangan Islam dan dipengaruhi oleh perkembangan jalan pikiran dan keadaan umat Islam.



Ilmu Kalam telah melalui beberapa masa yaitu:

a) Masa Rasulullah SAW

Masa ini adalah masa menyusun peraturan-peraturan, menetapkan pokok-pokok akidah, menyatukan umat Islam dan membangun kedaulatan Islam.

Masa ini para muslim kembali kepada Rasulullah sendiri untuk mengetahui dasar-dasar agama dan hokum-hukum syari’ah. Mereka disinari oleh Nur wahyu dan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an. Rasulullah menjauhkan para umat dari segala hal yang menimbulkan perpecahan dan perbedaan pendapat. Dan tidaklah diragui oleh siapa juapun bahwasanya perdebatan dalam masalah akidah adalah sebab utama perpecahan perbedaan pendapat. Orang senantiasa berusaha mempertahankan pahamnya dengan mempergunakan dalil-dalil yang dapat digunakan (Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, 2001: 4)
b) Masa Khulafa Rasyidin

Setelah Rasulullah wafat, dalam masa khalifah pertama dan kedua, umat Islam tidak sempat membahas dasar-dasar akidah, karena mereka sibuk menghadapi musuh dan berusaha mempertahankan kesatuan dan persatuan.
Dimasa khalifah ketiga akibat terjadi kekacauan politik yang diakhiri dengan terbunuhnya Utsman, umat Islam terpecah dalam beberapa golongan dan partai, barulah masing-masing partai dan golongan-golongan itu berusaha mempertahankan pendiriannya dengan perkataan dan usaha, dan terjadilah perbuatan riwayat-riwayat palsu (Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, 2001: 8)
c) Masa BaniUmayyah

Setelah usaha-usaha mempertahankan kedaulatan islam mulai kendur dan terbuka masa untuk memikirkan hukum-hukum agama dan dasar-dasar aqidah, serta masuknya pemeluk-pemeluk agama lain ke dalam Islam yang jiwanya tetap dipengaruhi oleh unsur-unsur agama yang telah mereka tinggalkan lahirnya kebebasan berbicara tentang masalah-masalah yang tidak pernah dibahas oleh ulama salaf
Pada masa ini juga baru muncul (disusun) kitab pegangan dalam Ilmu Kalam. Diantara kitab-kitab yang disusun adalah Kitabut Tauhid, Kitabul Manilati Bainal Manzilataini, dan Kitab Al Futuya yang menurut uraian Al Maqrizi kitab ini disusun oleh Wasil ibn Atha’ (Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, 2001: 9-11).

d) Masa Bani Abbas

Dalam Nabi Abbas, hubungan pergaulan antara bangsa-bangsa Ajam dengan bangsa Arab semakin erat dan berkembanglah ilmu dan kebudayaan. Karena perkembangan ini terjadilah pergerakan ilmiah yaitu menterjemahkan kitab-kitabfilsafat dari bahasa yunani. Yang berperan disini adalah orang-orang Persia yang telah memeluk agama Islam. Sedangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pegawai negeri (Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, 2001: 11)

e) Masa Pasca Bani Abbas

Sesudah masa Bani Abbas datanglah pengikut Al-Asy’ariah yang terlalu menceburkan dirinya ke dalam falsafah dan mencampurkan mantiq dan lain-lain, kemudian dicampukan dengan Ilmu Kalam sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Badlawi dalam kitabnya Ath-Thawali dan Abuddin Al-Ijy dalam kitab Al-Mawaqif.
Al-Asy’ariah menggunakan mazhab Hambaliah dan berkembang sangat pesat hingga tak ada lagi mazhab yang menyalahinya selain mazhab Hambaliah. Tetapi ada seorang ulama yang menentang golongan Asy’ariah yaitu Taqiyuddin Ibnu Taimiah yang lahir pada abad ke-8 Hijriah di Damaskus. Ibnu Taimiyah membela Mazhab salaf (sahabat Nabi, Tabi’in, dan imam-imam Mujtahidin). Ada yang menerima pendapat Ibnu Taimiyah dengan sejujur hati dan ada juga berpendapat Ibnu Taimiyah itu orang sesat, sehingga terjadilah pro dan kontra.

Jalan yang ditempuh oleh Ibnu Taimiyah ini dilanjutkan oleh seorang muridnya yang termuka, yaitu Ibnu Qayyimil Jauziah. Semenjak Ibnu Qayyimil Jauziah menggantikan Ibnu Taimiyah mulailah lenyap daya kretif untuk mempelajari Ilmu Kalam. Setelah sekian lama lenyap ada gerakan yang mendapat keberkatan dari Allah, ialah gerakan Al-Imam Muhammad Abduh dan gurunya Jmaluddin Al-Afgani dan kemudian dilanjutkan oleh As-Said Rasyid Ridla.

Usaha yang dilakukan gerakan ini adalah membangun kembali ilmu-ilmu agama dan timbullah jiwa baru yang cendrung untuk mempelajari kitab-kitab Ibnu Taimiyah. Anggota-anggota gerakan ini dinamakan Salafiah (Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, 2001: 16-17).
Sampai sekarang ilmu kalam disosialisasikan melalui tiga jalur, yaitu:

1) Formal

Sekarang di sekolah-sekolah banyak kita temukan pelajaran yang membahas tentang ilmu kalam, walaupun hanya bentuk umumnya saja. Pelajaran ini dapat kita temukan di sekola-sekolah SMA dan MA khusunya di kelas XI.

2) Informal

Jika di sekolah-sekolah SMA dan MA kita temukan dalam bentuk umum saja, tetapi disini kita temukan dalam bentuk khusus. Seperti yang di pelajari di pondok pesantren di seluruh Indonesia khusunya di Pondok Pesantren Darussalam Sengkubang, Pondok Pesantren Darussalam Al-Falah di Sungai Kunyit, Pondok Pesantren Al-Khairiyah dan lain-lain.

3) Nonformal

Selain di jalur formal dan informal banyak juga kita temukan pembahasan ilmu kalam di jalur nonformal seperti pada majlis-majlis, pengajian-pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu. Seperti yang dilakukan bapak-bapak dan ibu-ibu di Desa Sungai bundung(Dusun 700 dan Dusun Sungai), Desa Bukit batu (Dusun Serai Wangi dan Dusun Karya Utama), Desa Sungai Jaga, Desa Sungai Kunyit masih banyak lagi di Desa-desa lain. Yang saya ketahui Desa Sungai Bundung pematerinya adalah Ustadz Murtadho, Ustadz Muslim, Ustadz Khalil dan lain-lain. Sedangkan di Desa Sungai Jaga Ustadz Abdul Amin.


















PENUTUP
1. KESIMPULAN

Ilmu Kalam dikenal juga dengan nama lain theologi, Ilmu Ushuluddin; ‘ilmu tauhid dan fiqh al-akbar’. Theologi berarti ilmu ketuhanan, yakni cabang ilmu yang mempelajari segala sesuatu menganai Tuhan dan ajarannya. Sebenarnya teologi berbeda dengan Ilmu Kalam. Teologi hanya dikenal di dunia Kristen yang dihubungkan dengan ilmu agama secara keseluruhan. Teologi disebut sebagai “ilmu Tuhan,” ilmu segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan. Maka dalam tradisi Kristen, teologi berbicara tentang berbagai masalah yang menyangkut dengan agama, termasuk di dalamnya bagaimana mengatur masyarakat, menafsirkan bible, dan aspek mistik dalam agama. Sementara dalam tradisi Islam persoalan hukum dan tafsir serta mistik dipelajari terpisah dalam fiqh, tafsir dan tasawuf. Sementara ilmu tentang Tuhan sendiri dalam Islam dipelajari dalam Ilmu Kalam. Namun demikian, untuk menyederhanakan, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan teologi adalah Ilmu Kalam itu sendiri.
Sumber-sumber Ilmu Kalam adalah sebagai berikut :

1. Sumber langsung

a. Al-Qur’an

b. Hadits
2. Sumber tidak langsung
a. Pemikiran Manusia
b. Insting
Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Ustman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Muawwiyah dan Ali bin Abi Thalib mengkristal menjadi Perang Siffin yang berakhir dengan keputusan tahkim (arbitrase). Sikap Ali yang menerima tipu muslihat Amr bin Al-Ash, utusan dari pihak Muawwiyah dalam tahkim, sungguhpun dalam keadaan terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka berpendapat bahwa persoalan yang terjadi saat itu tidak dapat diputuskan melalui tahkim. Putusan hanya datang dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam Al-Quran. La Hukma Illa Lillah (tiada hukum selain dari hukum Allah) atau La Hukma Illa Allah (tiada perantara selain Allah) menjadi semboyan mereka.
Perkembangan Ilmu Kalam sejalan dengan perkembangan Islam dan dipengaruhi oleh perkembangan jalan pikiran dan keadaan umat Islam. Perkembangan juga mempunyai beberapa masa, yaitu masa Rasulullah SAW, masa Khulafa Rasyidin, masa Bani Umayyah, masa Bani Abbas, dan masa Pasca Bani Abbas.
Sekarang Ilmu Kalam disosialisaiskan melalui tiga Jalur, yaitu:
1) Formal
2) Informal
3) Nonformal

2. SARAN
Diharapkan kepada seluruh mahasiswa pada umumnya. Dan pada mahasiswa/i semester tiga pada khususnya. Agar lebih belajar dengan giat tentang Ilmu Kalam supaya kita lebih memahami Ilmu Kalam yang pada makalah ini dititik beratkan pada Sejarah Munculnya Ilmu Kalam dalam Islam.






DAFTAR PUSTAKA
Adeng Mushtar Ghazali. 2005. Perkembangan Ilmu Kalam dari Klasik Hingga Modern. Bandung: Pustaka Setia
Erwin Mahrus & Moh. Haitami Salim. 2008. Pengantar Studi Islam. Pontianak: STAIN Pontianak Press
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. 2001. Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/ Kalam. Semarang: Pustaka Rizki Putra
http://RahmatFauza,ZuriRizkiZias&ZahrulFaizin.w4kg3ng.co.cc/26/10/2009/pengertian-sumber-dan-sejarah-ilmu