BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kegiatan
pembelajaran di sekolah adalah kegiatan pendidikan pada umumnya, yang
menjadikan siswa menuju keadaan yang lebih baik. Pendidikan dalam hal ini
sekolah tidak dapat lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam penyampaian
materi. Profesionalisme seorang guru sangatlah dibutuhkan guna terciptanya
suasana proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam pengembangan
siswa yang memiliki kemampuan beragam. Pembelajaran pada dasarnya adalah proses
interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan
perilakau kearah yang lebih baik.
Pemecahan
masalah merupakan fokus dalam pembelajaran yang artinya sebelum siswa belajar
harus melalui sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari yang
masalahnya bersifat tertutup dan terbuka.Oleh karena itu pada proses
pembelajaran guru perlu meningkatkan kemampuan menjadi guru professional dan
kreatif dalam mengembangkan kemampuan mengajar sehingga siswa dapat maksimal
walaupun dalam kenyataannya guru-guru di Indonesia sebagian besar masih
mempertahankan metode-metode pembelajaran lama. Kemampuan guru sebagai salah
satu usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dimana guru merupakan elemen di
sekolah yang secara langsung dan aktif bersinggungan dengan siswa, kemampuan
yang dimaksudkan adalah kemampuan mengajar dengan menerapkan model pembelajarn
yan tepat, efisien dan efektif.
B.
Rumusan Masalah
Bagaimana prinsip dasar
proses pembelajaran ?
C.
Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari penulisan
makalah yang kami sajikan ini adalah :
o Menjelaskan kembali tentang prinsip dasar proses
pembelajaran
o Menyebutkan dan menjelaskan Teori
pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip belajar.
o Menyebutkan
dan menjelaskan proses pembelajaran
BAB II
TINJAUAN
TEORITIS
A. PRINSIP DASAR PROSES PEMBELAJARAN
Prinsip
belajar adalah konsep-konsep yang
harus diterapkan didalam proses belajar mengajar . Seorang guru akan dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia dapat menerapkan cara mengajar
yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar. Dengan kata lain supaya dapat
mengotrol sendiri apakah tugas-tugas mengajar yang dilakukannya telah sesuai
dengan prinsip-prinsip belajar maka guru perlu memahami prinisp-prinsip belajar
itu. Pentingnya guru memahami prinsip dari teori belajar menurut Lindgren dalam
Toeti Sukamto (1992: 14 ) mempunyai alasan sebagai berikut :
Teori belajar ini membantu guru untuk memahami proses belajar yang
terjadi di dalam diri siswa. Dengan kondisi ini guru dapat mengerti kondisi dan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, memperlancar atau menghambat proses
belajar; Teori ini memungkinkan guru melakukan prediksi yang cukup akurat
tentang hasil yang dapat diharapkan suatu aktifitas belajar; Teori belajar merupakan sumber hipotesis atau
dugaan-dugaan tentang proses belajar yang telah diuji kebenarannya melalui
experimen dan penelitian. Dengan mempelajari teori belajar pengertian seseorang
tentang bagaimana terjadinya proses belajar akan meningkat , Oleh karenanya
sangatlah penting bagi seorang guru untuk memiliki pengetahuan tentang
prinsip-prinsip dari berbagai teori belajar.
Belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang
merubah stimuli yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah
informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk
ingatan jangka panjang. Hasil-hasil belajar ini memberikan kemampuan melakukan
berbagai penampilan;Kemampuan yang merupakan hasil belajar ini dapat
dikatagorikan sebagai bersifat praktis dan teoritis. Kejadian-kejadian di dalam
pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar dapat di kelompokkan ke dalam
kategori umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang diharapkan. Namun
tiap-tiap hasil belajar memerukan adanya kejadian-kejadian khusus untuk dapat
terbentuk.
Dari uraian di atas tampak bahwa teori pembelajaran merupakan suatu
kumpulan prinsip-prinsip yang terintegrasi dan memberikan preskripsi untuk
mengatur situasi agar siswa mudah mencapai tujuan belajar. Prinsip-prinsip
pembelajaran dapat diterapkan dalam pembelajaran tatapmuka dikelas maupun tidak
seperti pembelajaran jarak jauh, terprogram dll. Teori pembelajaran juga
memberi arahan dalam memilih metode pengajaran yang mana yang paling tepat
untuk suatu pembelajaran tertentu.
B.
TEORI
PEMBELAJARAN BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
Ada 2 macam cara prinsip dasar pembelajaran :
-
perhatian dan responsif
Untuk belajar siswa harus mempunyai perhatian
dan responsif terhadap materi yang akan diajarkan. Jadi materi pembelajaran
harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian si belajar.
Semua proses belajar memerlukan waktu, dan
untuk suatu waktu tertentu hanya dapat dipelajari sejumlah materi yang sangat
terbatas.
Di dalam diri orang yang sedang belajar
selalu terdapat suatu alat pengatur internal yang dapat mengotron motivasi
serta menentukan sejauh mana dan dalam bentuk apa seseorang bertindak dalam
suatu situasi tertentu. Pengetahuan tentang hasil yang diperoleh di dalam
proses belajar merupakan faktor penting sebagai pengontrol. Disini ditekankan
juga perlunya kesamaan antara situasi belajar dengan pengalaman-pengalaman yang
sesuai dengan kehidupan nyata.
Teori Pembelajaran berdasarkan analisis
tugas; teori pembelajaran yang ada diperoleh dari berbagai penelitian
dilaboratorium dan ini dapat diterapkan dalam situasi persekolahan namun hasil
penerapannya tidak selalui memuaskan oleh karena itu sangat penting untuk
mengadakan analisis tugas (task analysis) secara sistematis mengenai
tugas-tugas pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa, yang kemudian
disusun secara hierarkis dan diurutkan sedemikian rupa tergantung dari tujuan
yang ingin dicapai.
-
Transfer Belajar (Transfer of Learning)
Istilah Transfer belajar berasal dari bahasa
Inggris “Transfer of learning” yang berarti pemindahan atau pengalihan hasil
belajar dari matapelajaran yang satu ke matapelajaran yang lain atau dari
kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah. Adanya pemindahan atau
pengalihan ini menunjukkan bahwa ada hasil belajar yang bermanfaat dalam
kehidupan sehari-hari maupun dalam memahami materi pelajaran yang lain. Hasil
belajar yang diperoleh dan dapat dipindahkan tsb. dapat berupa pengetahuan
(informasi verbal), kemahiran intelektual, keterampilan motorik atau afektif
dll. Bila hasil belajar (pengetahuan) yang terdahulu memperlancar atau membantu
proses belajar yang kemudian maka dikatakan telah terjadi ransfer belajar yang
disebut transfer positif. Misalnya materi pelajaran biologi memudahkan siswa
untuk memahami dan mempelajari materi geografi. Sebaliknya bila pengetahuan
atau pengalaman yang diperoleh lebih dahulu mempersulit proses belajar yang
kemudian maka dikatakan telah terjadi transfer belajar negatif.
Sehubungan dengan pentingnya transfer belajar
maka guru dalam proses pembelajaran harus membekali si belajar dengan
kemampuan-kemampuan yang nantinya akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karenanya pelu diciptakan kondisi yang memungkinkan transfer belajar
positip dapat terjadi.
C. PROSES PEMBELAJARAN
1. Konsep Belajar
Konsep belajar menurut guru sangat
menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Belajar siswa yang ditafsirkan
guru hanya sebagai menghafal atau mendengarkan keterangan guru saja merupakan
problem yang harus diatasi. Hal ini karena jika guru menganggap bahwa belajar
hanyalah menghafal atau hanya untuk mendengarkan keterangan guru maka selama
itu pula pembelajaran masih terpusat pada guru dan tidak pada siswa yang
seharusnya mengalami belajar. Untuk itulah guru harus mengubah pandangan
tentang belajar dan mengetahui bagaimana sebenarnya belajar itu.
Ada
beberapa pengertian belajar yang telah disampaikan oleh para pemikir pendidikan
mulai yang sangat sederhana sampai dengan yang kompleks berdasarkan teori
belajar yang digunakannya.
1.
Belajar adalah penambahan ilmu pengetahuan, yang nampak di sekolah.
2.
Ernest R. Hilgard memberi batasan, belajar adalah suatu proses yang
melahirkan atau mengubah suatu kegiatan karena mereaksi terhadap
suatu keadaan (karena adanya latihan).
3.
Menurut HC Witherington, belajar adalah suatu perubahan di dalam
kepribadian yang menyatukan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi
yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.
4.
Robert Gagne menyatakan, belajar adalah suatu proses untuk memperoleh modifikasi
dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku yang diperoleh
dari instruksi.
5.
Belajar adalah suatu proses dimana organisme berubah perilakunya
sebagai akibat pengalaman (Gage).
Berdasarkan
pengertian-pengertian tersebut dapat diketahui bahwa belajar pada dasarnya
adalah sebuah proses yang dilakukan seseorang yang menghasilan perubahan pada
dirinya akibat dari interaksi dengan lingkungannya. Belajar adalah suatu
perbuatan yang kompleks yang mencakup beberapa segi. Dengan demikian dalam praktik
pengajaran diperlukan keputusan yang bijaksana dalam menerapkan teori belajar
karena tidak ada suatu teori yang sesuai untuk segala situasi.
2. Konsep Mengajar
Seperti
halnya belajar, mengajar merupakan proses yang kompleks karena banyak kegiatan
yang harus dilakukan agar hasil belajar siswa lebih baik. Oleh sebab itu
rumusan pengertian mengajar tidak dapat dirumuskan begitu saja secara sederhana
yang tidak meliputi seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu
sendiri. Setiap rumusan akan berimplikasi pada aktivitas yang terjadi dalam
pembelajaran. Misalnya, seorang guru/dosen yang berpandangan bahwa mengajar
sekedar menyampaikan pelajaran/materi, tentu pembelajaran yang dilakukan hanya
upaya menyampaikan bahan pengajaran kepada siswa secara sederhana. Guru
menyampaikan materi dan siswa menerima materi. Guru berlaku aktif mendominasi
aktivitas kelas, sebaliknya siswa banyak mendengar secara pasif.
Berdasarkan
ilustrasi di atas, konsep mengajar yang relatif komprehensif harus dipahami
oleh guru. Berikut beberapa pengertian yang representatif menggambarkan apa
sebenarnya mengajar itu.
1.
William H Burton memberi pengertian, mengajar adalah upaya dalam memberi
perangsang, bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses
belajar.
2.
Mohamad Ali mendefinisikan, mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam
rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai
dengan tujuan yang telah dirumuskan.
3.
Nana Sudjana menyatakan mengajar pada hakikatnya suatu proses, proses mengatur,
mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan
dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar
adalah proses memberikan bimbingan/ bantuan kepada siswa dalam melakukan proses
belajar.
Jika
dicermati, pendapat yang dikemukakan para pakar tersebut menunjukkan bahwa
mengajar bukan hanya kegiatan guru menuangkan materi kepada siswa dengan pola
datang, duduk, diam, dan catat. Lebih dari itu, mengajar merupakan suatu proses
yang melibatkan sejumlah kegiatan yang direncanakan dalam upaya menciptakan
kondisi agar siswa mengalami perbuatan belajar secara aktif sehingga terjadi
perubahan tingkah laku.
3. Prinsip Mengajar
Mengajar
bukanlah pekerjaan atau tugas yang ringan bagi seorang guru. Agar hasil atau
tujuan pembelajaran tercapai dengan baik, banyak hal yang harus dipertimbangkan
dan dilakukan guru baik sebelum, sedang, dan selesai melakukan kegiatan
mengajar. Agar tidak sekedar mengajar di depan kelas, guru perlu menerapkan
prinsip-prinsip mengajar. Ada beberapa pendapat tentang prinsip mengajar secara
efektif. Tanpa mengurangi makna secara komprehensif, berikut adalah prinsip
mengajar yang dapat dipedomani pengajar agar dapat mengajar dengan efektif.
1.
Perhatian. Pengajar harus dapat membangkitkan perhatian peserta belajar
kepada topik dan pengalaman belajar yang sedang dipelajari.
2.
Aktivitas. Pengajar harus melibatkan peserta belajar berpartisipasi
aktif dalam proses belajar mengajar.
3.
Appersepsi. Pengajar perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan
dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta belajar.
4.
Peragaan. Pengajar hendaknya berusaha menggunakan media untuk menunjukkan
benda atau hal-hal yang sesuai dengan materi yang sedang diajarkan dalam kelas.
5.
Repetisi. Mengingat ingatan itu tidak setia (terbatas), guru perlu
mengulang penjelasannya jika diperlukan.
6.
Korelasi. Pengajar hendaknya selalu menghubungkan materi yang diajarkan
dengan pelajaran lain sehingga cakrawala peserta belajar bertambah luas.
7.
Sosialisasi. Pengajar hendaknya dapat menciptakan kondisi kelas yang
kondusif yang mengakibatkan terjadinya proses sosial.
8.
Individualisasi. Manusia adalah makhluk yang unik, masing-masing
memiliki perbedaan kemampuan belajar. Oleh sebab itu pengajar harus bisa
menghargai setiap perbedaan dan melayani secara optimal.
9.
Sequence. Pengajar harus memikirkan efektivitas dari serangkaian
pelajaran yang disusun secara tepat menurut waktunya (sesuai dengan urutan atau
tahapan).
10.
Evaluasi. Pengajar harus mengadakan evaluasi untuk mengetahui hasil
belajar peserta belajar dan efektifitas mengajarnya.
4. Syarat Mengajar Efektif
Jika
disepakati bahwa mengajar adalah proses menciptakan kondisi agar
siswa/mahasiswa mengalami proses belajar, maka guru/dosen harus mampu mengajar
secara efektif. Hal itu berarti mengajar secara efektif adalah mengajar yang
dapat membawa belajar siswa/mahasiswa yang efektif.
Untuk
melaksanakan mengajar yang efektif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut.
1.
Guru harus menguasai materi/bahan pengajaran.
2.
Guru harus cinta kepada apa yang diajarkan.
3.
Guru harus mampu menciptakan kondisi agar siswa bisa belajar dan mengalami
aktivitas mental dan fisik.
4.
Guru harus mampu menggunakan metode yang bervariasi saat mengajar.
5.
Guru harus mampu merencanakan, membuat, dan menggunakan media pengajaran secara
tepat.
6.
Guru hendaknya memotivasi siswa sesuai sasaran dalam belajar.
7.
Guru harus mampu dan mau membuat perencanaan sebelum mengajar dan
mengimplementasikan dalam kelas.
8.
Guru harus mampu memberikan masalah yang merangsang berpikir siswa.
9.
Guru harus menyadari bahwa dirinya tidak mungkin menguasai dan mendalami semua
bahan pengajaran.
10.
Guru harus mampu mengadakan evaluasi secara tepat sesuai dengan tujuan.
5. Proses Belajar Mengajar
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar (UU No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas).
Proses belajar mengajar merupakan implementasi dari serangkaian
perencanaan yang telah dilakukan oleh guru dalam bentuk proses interaksi dengan
siswa di dalam maupun di luar kelas untuk mencapai tujuan. Dalam kondisi ini
terdapat serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik
dan terpadu yang berlangsung dalam situasi edukatif. Artinya, dalam proses
belajar mengajar ini tidak sekedar guru menyampaikan pesan berupa materi
pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai serta keterampilan pada diri
siswa yang sedang belajar.
Proses
belajar mengajar dapat dikatakan sebagai proses “pengaturan” lingkungan
dan sumber daya yang ada agar terjadi kegiatan belajar (perubahan tingkah laku)
pada siswa. Proses belajar mengajar merupakan suatu sistem, dibangun
oleh komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Ini
berarti, proses belajar mengajar bisa berlangsung secara optimal jika seluruh
komponennya melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Komponen proses belajar
mengajar tersebut adalah tujuan, manusia, bahan, kegiatan belajar mengajar,
metode, alat, sumber pelajaran, evaluasi. Menurut T. Raka Joni,
komponen-komponen tersebut adalah tujuan, siswa, isi dan struktur bahan
pengajaran, pengajar, ekonomi dan administrasi.
6. Peran Guru
Proses
pendidikan tampak pada pelaksanaan proses belajar mengajar. Dalam pelaksanaan
tersebut guru merupakan ujung tombak pelaksana di lapangan. Hal ini berarti
guru memiliki peranan yang penting dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan.
Peran guru dalam proses belajar mengajar adalah:
1.
Guru sebagai pendidik. Guru harus menanamkan norma-norma dan nilai kepada anak
didiknya.
2.
Guru sebagai pengajar. Guru harus mengorganisasikan dan mengelola semua
komponen dan kompetensi belajar mengajar.
3.
Guru sebagai pembimbing. Guru harus memberikan bimbingan (akademik, sosial,
individu, pekerjaan, waktu senggang) kepada siswa.
4.
Guru sebagai demonstrator. Guru hendaknya senantiasa menguasai bahan yang
diajarkan dan mampu memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis.
5.
Guru sebagai pelatih. Guru harus mampu mengembangkan keterampilan-keterampilan
pada diri siswa.
6.
Guru sebagai administrator. Guru hendaknya “mengadministrasikan” secara baik
komponen yang ada di kelas (mengetahui dan membuat program pengajaran, mengelola
kelas, dan sebagainya)
7.
Guru sebagai mediator. Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan,
pemahaman, dan keterampilan yang cukup tentang media pendidikan serta menjadi
perantara dalam hubungan antar manusia.
8.
Guru sebagai fasilitator. Guru hendaknya memberikan fasilitas yang maksimal
agar tujuan pengajaran tercapai.
9.
Guru sebagai evaluator. Guru harus mampu menguasai dan terampil melaksanakan
kegiatan evaluasi pendidikan.
7. Proses Belajar Mengajar Sebagai Proses Komunikasi
Proses
belajar mengajar pada hakikatnya adalah sebuah komunikasi yang dibangun dan
dilakukan oleh guru sebagai komunikator dengan siswa sebagai komunikan.
Komunikasi ini merupakan kegiatan manusia, sesuai dengan nalurinya yang selalu
ingin berhubungan satu sama lain, saling interaksi dan saling membutuhkan.
Keinginan untuk berhubungan di antara sesamanya sesungguhnya merupakan naluri
manusia yang ingin hidup berkelompok atau bermasyarakat. Dengan adanya naluri
tersebut komunikasi dapat dikatakan merupakan bagian hakikat dari kehidupannya
yang senantiasa hidup bermasyarakat. Dengan kata lain, manusia akan kehilangan
hakikatnya sebagai manusia bila ia tidak melakukan kegiatan komunikasi dengan
sesamanya.
Istilah
komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu communicare yang artinya
“memberitahukan”; “berpartisipasi”; atau “menjadi milik bersama”. Bila
dirumuskan lebih luas, komunikasi mengandung makna menyebarkan informasi,
berita, pesan, pengetahuan, nilai-nilai dengan maksud untuk menggugah
partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama antara
penyampai pesan sebagai komunikator dan penerima pesan sebagai komunikan.

Berdasarkan
pemahaman komponen utama komunikasi tersebut, komunikasi adalah proses
penyampaian pesan, gagasan, fakta, konsep, dan data dari sumber pesan melalui
media/saluran yang sengaja dirancang sehingga dapat diterima oleh penerima
pesan atau komunikan. Dalam konteks proses belajar mengajar, pesan yang
disampaikan adalah isi pelajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber
pesan bisa berupa guru, siswa, orang lain atau penulis buku dan produser media.
Salurannya adalah media pembelajaran dan penerima pesannya adalah siswa atau
guru.
Keberhasilan
komunikasi dalam proses belajar mengajar akan mempengaruhi pencapaian tujuan
pembelajaran. Semakin lancar (berhasil) komunikasi dalam proses belajar
mengajar semakin mudah pencapaian tujuan. Sebaliknya, semakin tidak lancar
(gagal) komunikasi dalam proses belajar mengajar semakin sulit pencapaian
tujuan.
8. Komponen dan Pola
Instruksional
Instruksional
merupakan sebuah sistem. Sistem instruksional memiliki beberapa komponen, yaitu
pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan. Pesan adalah ajaran
atau informasi yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, dan
data. Orang adalah manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah,
dan penyaji pesan. Bahan adalah sesuatu (biasa pula disebut media atau software)
yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh
dirinya sendiri. Alat adalah sesuatu (biasa disebut hardware atau
perangkat keras) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam
bahan. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan yang disiapkan untuk
menggunakan bahan, peralatan, orang, dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Lingkungan
adalah situasi sekitar pesan diterima.

1.
Pola instruksional tradisional.
2.
Pola instruksional dibantu alat peraga.
3.
Pola instruksional yang merupakan tanggung jawab bersama dosen dan media.
4.
Pola instruksional dengan media
5.
Pola instruksional kombinasi.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Melalui
pemaparan makalah yang telah disampaikan dimuka, maka dapat ditarik suatu
kesimpulan, antara lain :
o
Belajar merupakan suatu proses perubahan
tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya yang relative permanen karena adanya pengalaman.
o
Perubahan perilaku yang terjadi sebagai
hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan
psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.
o
Teori belajar adalah
cara-cara yang digunakan untuk memahami tingkah laku individu yang relative
menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.
B. SARAN
Dengan
mempelajari meteri ini, mudah – mudahan dapat memberi pemahaman yang lebih
kepada mahasiswa yang membacanya. Dengan meteri ini nantinya pembaca harus bisa
mengerti apa itu prinsip dasar proses pembelejaran serta harus mengerti apasaja
proses pembelajaran. Apalagi kita sebagai seorang calon guru, kita harus mampu
mengetahui teori pembelajaran kepada siswa, supaya kita memberikan pendidikan
yang pantas dan sesuai dengan tahapan perkembangannya.
C. IMPLIKASI
Dengan kita
mempelajari materi ini, kita mengetahui bagaimana prinsip dasar proses
pembelajaran , dengan begitu kita bisa mengetahui bagaimana kita menghadapi
anak – anak atau siswa yang sedang ada dalam masa perkembangan.
DAFTAR PUSTAKA
- Bell-Geller, M.E. Learning and Instruction: Theory Into Practice, Macmillan Publishing Company, New York, 1986.
- Irawan, Prasetya, Teori Belajar. Program Pengembangan Keterampilan DAsar Teknik Instruksional (PEKERTI) Untuk Dosen MUda. Pusat Antar Universitas_Dikti, Depdikbud, 1997
- Subiyanto, Paul. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.
- Slavin, Robert E. Educational Psychology: Theory and Practice (Development During Childhood and Adolescence). Allyn and Bacon Paramount Publishing, Massachusetts, 1994.